Langsung ke konten

Cerita Makan

Hari berjalan
mengelilingi waktu makan.

Aku anak third culture. Rasanya seperti warga dari mana-mana, sekaligus bukan dari mana pun. Lahir di Jakarta, besar di Singapura dan Bali, sekarang tinggal di Durham. Nama aplikasinya pun datang dari sana: makan berarti “to eat” dalam bahasa Indonesia. Perasaan hidup di banyak tempat itulah akar dari semuanya.

Saat COVID datang, teman-teman terdekatku tersebar di berbagai negara dan kami semua terjebak di rumah masing-masing. Entah kenapa semua orang jadi serius soal makanan. Aku membuat satu shared story di Snapchat dan mengajak mereka memposting apa pun yang sedang dimakan. Itu menjadi satu tempat di mana kami masih bisa duduk di meja yang sama.

Story itu tidak pernah benar-benar berhenti. Ia menemani masa COVID, GCSE, A level, sampai kuliah. Teman mengajak teman, dan makanan muncul setiap hari. Saat tahun kedua kuliah aku mengunjungi seorang teman di NYU, aku duduk di New York sambil makan sepotong pizza dan mempostingnya ke story yang sama. Baru saat itu aku sadar: tanpa sengaja aku sudah membuat catatan fotografis tentang hidupku, satu makanan setiap kali. Dari situlah Makan lahir.

Di tengah perjalanan itu aku juga sadar kita sering melihat makanan dari sisi yang salah. Semua orang mengejar tempat yang sedang ramai, rating 4 koma sekian, dan antrean yang viral tiga hari lalu. Sementara itu, makanan di ulang tahun ayahmu yang ke-50 bisa hilang begitu saja dari ingatan. Makanan bukan catatan kaki dari sebuah hari. Justru hari itu berjalan mengelilingi waktu makan. Makan dibuat agar momen-momen itu tidak ikut hilang.

Caranya sederhana: foto makanan langsung di aplikasi, tambahkan caption, tandai siapa yang ada bersamamu, beri lokasi kalau sedang di luar, lalu posting. Lama-kelamaan semuanya menjadi jurnalmu. Setiap makanan duduk berdampingan dengan momen yang hanya kamu pahami. Jurnalmu menjadi ceritamu.

Tidak ada hitung kalori dan tidak ada bintang. Aku memeriksa sekitar 150 restoran di Durham di Google; hampir separuh punya rating 4,5 atau lebih. Kalau hampir semuanya mendapat angka setinggi itu, angkanya berhenti membantu. Makan punya Eat or Yeet. Dua makananmu bertemu satu lawan satu: rendang buatan nenek melawan nasi goreng abang-abang jam dua pagi. Pilihanmu membentuk peringkat pribadi dari waktu ke waktu. Seperti Top 4 di Letterboxd, tetapi untuk makanan. Makan malammu bukan 4 koma sekian dari 5. Ia bisa jadi nomor satu sepanjang masa, dan orang lain tidak punya hak suara.

Aku memimpin produk dan desain, bekerja bersama tim developer berpengalaman di Jawasoft, Jakarta. Ayahku menghabiskan kariernya di dunia software di sana dan mencintai makanan sebesar aku. Akhirnya ini menjadi proyek ayah dan anak yang sungguhan. Dalam sedikit lebih dari setahun, idenya sudah hadir di App Store.

Kami meluncur pada Juni 2026. Sekarang sudah ada beberapa ratus orang di Makan, dengan lebih dari 4.583 momen makan tersimpan.

Lihat bagaimana orang memakai Makan lewat ulasan langsung tentang tempat-tempat yang benar-benar mereka ingat.

Baca ulasannya dalam bahasa Inggris →

Untuk media

Makan adalah jurnal makanan sosial untuk iPhone yang membantu orang menyimpan apa yang mereka makan, di mana, dan bersama siapa. Dibuat oleh Devon Makepeace, pendiri berdarah Indonesia, Makan menggabungkan jurnal pribadi, feed Friends yang kronologis, dan pilihan berbagi Public atau Friends Only.

Kontak media: hello@makanofficial.com

Unduh di App Store